You need to enable javaScript to run this app.

Cara Memilih Modul Ajar Yang Tepat

  • Minggu, 12 Februari 2023
  • Administrator
  • 0 komentar
Cara Memilih Modul Ajar Yang Tepat

Sahabat Pendidik, cara memilih modul ajar yang tepat menjadi kemampuan dasar bagi guru dalam membuat kelasnya menjadi kelas aktif inovatif, sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan bahwa siswa juga membutuhkan dukungan kognitif selama pembelajarannya, salah satunya adalah modul yang dapat digunakan untuk pembelajaran siswa secara mandiri. Modul dikembangkan sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa

Upaya peningkatan mutu pendidikan dengan peningkatan profesionalisme Guru adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Mendigitalkan dunia pendidikan yang berpengaruh. Demi pembelajaran yang tersedia di Internet berbagai dokumen, seperti gambar, video, dokumen elektronik dan modul elektronik

Nadiem Makarim (2019) menegaskan bahwa guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat sulit namun mulia. guru diberikan bertanggung jawab untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi atas dasar aturan datang dalam bentuk persiapan administrasi yang diperlukan yang diberikan oleh guru sehingga terbentuk konsep-konsep luhur Apa yang guru harus lakukan dengan siswa tidak maksimum

Pengertian modul ajar lama (MAL), sebelum diterapkannya kurikulum umum Aktivator (Zahra et al., 2017) adalah semua jenis bahan, baik yang dicetak, objek, maupun audiovisual atau apapun yang memudahkan pelaksanaannya Tujuan belajar. Dalam konteks belajar mengemudi, maknanya berubah (Ruhaliah et al., 2020), jika konsisten dengan program sebelumnya.

Merangkul Modul pengajaran baru (MAB) dalam konteks ini mengacu pada RPP. Perbedaan lainnya adalah modul ajar ini disusun setelah melakukan penilaian diagnostic untuk memenuhi kebutuhan siswa.

Inovasi yang terjadi di sebagian besar sekolah di Indonesia adalah perbaikan sistem pembelajaran, yakni kurikulum mandiri yang telah disosialisasikan secara terpadu. Cara memilih modul ajar yang merupakan alat penting untuk keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah program mandiri.

Modul ajar merupakan bahasa RPP yang baru, namun isi modul ajar dan RPP berbeda secara signifikan. Beberapa sekolah telah menyusun program penyelenggaraan satuan pengajaran (KOSP) sebelum memulai pelajaran pertama, poin-poinnya dijumlahkan meliputi tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran (ATP).

Modul memiliki berbagai keunggulan, baik untuk kepentingan siswa maupun preferensi guru. Untuk siswa, modul yang berguna meliputi siswa memiliki kesempatan untuk mempraktekkan pembelajaran secara mandiri, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena dapat dipelajari di luar kelas dan di luar jam sekolah,

mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya, Kesempatan untuk menguji kemampuan mereka dengan melakukan latihan-latihan yang disajikan dalam modul, mampu mengajar diri sendiri dan mengembangkan kemampuan mereka kemampuan siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya

Inovasi pada model pembelajaran lama merupakan hasil riset kolaboratif antar mahasiswa dengan narasumber PBSI. Mengimplementasikan hasil penelitian dalam kegiatan pengabdian ini sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Sebelum itu, telah dilakukan hasil penelitian tentang literasi dan santun berbahasa kepada siswa sekolah dasar.

Sebelum menyusun modul ajar, guru harus mengetahui cara memilih modul ajar seperti strategi membangun modul ajar dan harus memenuhi dua syarat minimal yaitu memenuhi kriteria yang ada dan kegiatan pembelajaran dalam modul ajar sesuai prinsip pembelajaran dan penilaian. Standar modul pengajaran program mandiri adalah sebagai berikut;

(a) Esensial, yaitu setiap mata pelajaran memiliki konsep melalui pengalaman belajar dan lintas mata pelajaran,

(b) Menarik, bermakna dan menantang, yaitu guru dapat membangkitkan minat minat siswa dan secara aktif melibatkan mereka dalam pembelajaran, memadukan kemampuan kognitif dan pengalaman sehingga tidak terlalu rumit dan tidak terlalu mudah untuk usia mereka,

(c) Sesuai dan kontekstual, khususnya dalam kaitannya dengan faktor kognitif dan pengalaman sebelumnya dan dengan kondisi waktu dan tempat di mana siswa berada, dan

(d) Continuity, yaitu kegiatan pembelajaran harus memiliki keterkaitan satu sama lain sesuai dengan tahapan belajar siswa (tahap 1, tahap 2, tahap 3).

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Yono, S.Pd

- Kepala Sekolah -

Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang. Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’Saruga, Basengat Ka’Jubata   Seraya memanjatkan puji syukur...

Berlangganan
Banner